SIDOARJO – Kalau kita bicara soal panggung politik lokal, biasanya ada dua tokoh utama: Bupati dan Wakil Bupati. Duet ini idealnya kayak penyanyi duet legendaris: saling mengisi suara, saling melengkapi harmoni. Tapi di Sidoarjo, yang sering kita dengar belakangan justru bukan vokalis utama, melainkan backing vocal-nya. Mimik Idayana, Wakil Bupati yang belakangan lebih sering muncul di berita ketimbang pasangannya, Bupati Subandi.
Contoh terbaru, Mimik tampil percaya diri menyampaikan kabar baik, blanko e-KTP di Sidoarjo tersedia melimpah dan aman terkendali sampai tahun 2026. Informasi yang bagi sebagian warga mungkin terdengar biasa, tapi bagi yang pernah ngalamin ribetnya urus KTP—bolak-balik kecamatan, disuruh balik lagi karena “blanko habis”—ini kabar setara THR cair lebih cepat.
Dengan mantap, Mimik meminta seluruh kantor kecamatan agar memprioritaskan pelayanan cetak e-KTP. Bahasa sederhananya, jangan males-malesan, jangan bikin rakyat jengkel, jangan sampai ada drama warga ngeluh di medsos. “Kami pastikan blanko e-KTP tersedia dan siap digunakan hingga tahun 2026 mendatang,” katanya, Sabtu (27/9/2025). Kalimat yang tegas, lugas, dan terdengar sangat headline-able.
#Spotlight yang Berpindah
Pertanyaannya: di mana Bupati Subandi?
Bupati Sidoarjo, Subandi, justru jarang terlihat di panggung media. Kalau ini sinetron, beliau ibarat tokoh utama yang muncul di episode perdana lalu entah ke mana. Sedangkan Mimik nongol terus, dari urusan pelayanan publik sampai acara seremoni. Saking seringnya, publik bisa saja keliru mengira beliau Bupati beneran, bukan Wakil.
Fenomena ini jadi makin menarik kalau dihubungkan dengan gosip politik di belakang layer, kabarnya hubungan Bupati Subandi dan Wakilnya, Mimik Idayana, nggak selalu adem ayem. Ada gesekan kecil yang kadang naik jadi isu publik. Nah, dalam suasana “rumah tangga politik” yang agak renggang ini, wajar kalau muncul kesan spotlight justru lebih sering jatuh ke Mimik.
Biasanya, Bupati itu primadona pemberitaan. Mau itu sekadar ngeresmikan pos ronda, ngecek jembatan desa, atau bahkan hadir di lomba mancing antar-RT, wartawan pasti datang. Tapi kali ini, yang lebih banyak muncul justru Wakilnya. Bisa jadi memang strategi komunikasi: Subandi memilih gaya “low profile high impact”, sembari membiarkan panggung depan diisi Mimik. Atau sebaliknya, bisa juga Mimik yang gesit membaca peluang: ada ruang kosong di panggung, ya gaspol aja sekalian.
Kalau ini sinetron, Subandi mungkin sedang main peran “suami kalem” yang jarang bicara di depan umum, sementara Mimik ambil peran “istri vokal” yang nggak sungkan tampil di layar kaca. Buat penonton, ya otomatis lebih kenal sama yang sering nongol.
#Dari Blanko ke Branding Politik
Namun, ada juga sisi politisnya. Publik yang sering melihat wajah Mimik bisa merasa lebih dekat, lebih percaya. Nama Mimik makin akrab, makin lekat di benak warga. Dalam politik, keakraban semacam ini penting banget. Ingat, banyak karier politik besar yang berawal dari hal-hal sepele, dari sekadar muncul di berita soal bagi-bagi sembako, ngeresmikan tugu, sampai cerita blanko e-KTP. Dari situ kemudian publik menempelkan label: “Oh, pemimpin yang responsif itu ya Bu Mimik.”
Sementara itu, Subandi bisa saja nyaman di balik layar, atau memang sengaja mengatur strategi. Kita tidak tahu. Tapi dari kacamata publik, absennya Bupati dari headline ibarat makan nasi pecel tapi lauknya ilang. Tetap bisa dimakan, tetap bikin kenyang, tapi rasanya ada yang janggal.
Apapun alasan di baliknya, yang jelas warga Sidoarjo sekarang bisa lega, urus e-KTP tidak perlu wira-wiri. Blanko aman sampai 2026, alias sampai akhir periode duet Subandi–Mimik. Setidaknya, masyarakat nggak akan lagi mendengar kalimat horor yang legendaris itu: “KTP-nya belum bisa dicetak, blanko habis.”
Meskipun kabar ini sederhana, ia menyentuh hal vital, identitas warga negara. Dan Mimik berhasil menjadikan hal vital ini sebagai panggung politiknya. Bupati boleh hilang dari sorotan, tapi Wakilnya hadir, tampil, dan memastikan publik merasa dilayani.
Mungkin, suatu hari nanti, ketika warga antre di kecamatan sambil ngelus-ngelus map plastik isi fotokopian KK, mereka bakal nyeletuk:
“Eh, Bupati kita Subandi kabarnya gimana, ya? Kok yang sering muncul di berita malah Bu Mimik terus?” ***