SIDOARJO – Pondok Pesantren Putra Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo, seharusnya menjadi suasana khusyuk pada Senin, 29 September 2025 sore. Karena ratusan santri berbaris rapi di lantai dua untuk salat asar berjamaah. Tapi beberapa menit setelah takbir pertama, langit-langit lantai tiga yang baru saja dicor pagi itu ambruk.
Saat peristiwa itu, satu santri meninggal, 84 luka-luka. Sisanya berlarian, sebagian masih di antara puing-puing dan debu. Yang paling ironis, bangunan itu memang masih dalam tahap renovasi. “Setahu saya, pengecoran terakhir dilakukan tadi pagi sampai siang hari,” kata pengasuh pesantren, Abdul Salam Mujib.
Kalimat yang kalau didengar oleh tukang bangunan mana pun, mungkin langsung bikin mereka ngelus dada. Sebab semua orang tahu, coran semen baru tidak langsung kuat dalam hitungan jam. Tapi, di negeri ini, keyakinan sering kali lebih cepat dari kalkulasi teknis.
#Antara Takdir dan Tata Cara
Usai kejadian, sang pengasuh menyampaikan permohonan maaf kepada orang tua santri. Ia menyebut peristiwa ini sebagai “takdir dari Allah”. Sebuah kalimat yang sering muncul dalam setiap bencana yang melibatkan kelalaian manusia.
Takdir memang tak bisa ditolak, tapi keputusan untuk salat di bawah coran basah itu bukanlah takdir—itu pilihan. Dan setiap pilihan ada risikonya. Kita hanya terlalu sering menyamarkannya dengan kata “ujian” agar tak perlu mencari siapa yang sebenarnya harus bertanggung jawab.
#Cor, Izin, dan Pola Lama yang Terus Diulang
Polisi sudah turun tangan, saat setelah kejadian. BPBD Sidoarjo pun langsung mendirikan posko gabungan. Semua prosedur pascabencana sudah dijalankan dengan rapi. Tapi publik tentu sudah hafal bagaimana ujung dari kisah semacam ini. Nanti akan muncul kalimat, “struktur tidak sesuai perencanaan”, “campuran semen tidak ideal”, atau “bangunan belum berizin.”
Yang ironis, semua itu hanya muncul setelah ada korban. Setelah nyawa jadi bukti paling menyakitkan bahwa pembangunan sering kali lebih cepat dari kehati-hatian.
#Ketika Bangunan Runtuh, Logika Pun Ikut Ambruk
Santri-santri yang kemarin berlari dari reruntuhan mungkin akan selamanya mengingat suara “kraakkk” yang menandai detik-detik maut. Tapi bagi sebagian orang dewasa di sekitar mereka, suara itu mungkin hanya akan terdengar sebagai “musibah biasa”.
Padahal setiap tragedi seperti ini bukan hanya tentang beton yang rapuh. Ini juga tentang sistem yang longgar, pengawasan yang asal-asalan, dan budaya kerja yang lebih percaya pada “bismillah” ketimbang perhitungan struktur.
Sejak kejadian, tim gabungan dari BPBD Sidoarjo, TNI, Polri, dan relawan masih terus melakukan evakuasi. Hingga Selasa (30/9/2025), data korban masih terus berkembang. Total tercatat 100 orang terdampak.
Korban Meninggal Dunia
- Maulana Alfan Ibrahimavic – Manyar Kulon IX/5, Kel. Bongkaran, Kec. Pabean Cantikan, Kota Surabaya
- Mochammad Mashudulhaq – Dkh. Kalikendal, Kec. Dukuh Pakis, Kota Surabaya
- Muhammad Soleh – Jl. Madura 13/04, Tanjung Pandan, Bangka Belitung
Rincian Korban
- Pasien rawat inap: 26 orang
- Pasien pulang (KRS): 70 orang
- Meninggal dunia: 3 orang
- Dirujuk: 1 orang (dari RS Siti Hajjar ke RSI Sakinah Mojokerto)
- Dalam pencarian: sekitar 91 orang
Reruntuhan masih harus dibersihkan satu per satu. Bau semen dan debu bercampur dengan isak keluarga yang masih menunggu kepastian.
#Rumah Sakit Jadi Titik Harapan
Para korban tersebar di beberapa rumah sakit di Sidoarjo dan sekitarnya. Di RSUD RT Notopuro Sidoarjo, tercatat ada 40 pasien yang sempat dirawat. Delapan di antaranya masih menjalani perawatan inap, 30 sudah diperbolehkan pulang, dan dua orang meninggal dunia.
Di RS Siti Hajjar, ada 52 korban yang sempat ditangani. Sebelas di antaranya masih dirawat, 39 sudah pulang, satu meninggal dunia, dan satu orang dirujuk ke RSI Sakinah Mojokerto untuk penanganan lebih lanjut.
Sementara di RS Delta Surya, enam orang masih menjalani perawatan. Di RS Sheila Medika, satu korban sempat dirawat dan kini sudah pulang. Adapun di RS Unair, satu korban masih menjalani perawatan intensif.
#Pelajaran dari Reruntuhan
Pondok pesantren ini pasti akan bangkit lagi. Bangunan baru mungkin akan dibangun dengan semen lebih tebal dan doa lebih khusyuk. Tapi semoga kali ini, bukan hanya doanya yang kuat—melainkan juga perhitungannya.
Karena kalau cor belum kering tapi sudah dipakai salat, itu bukan soal iman. Itu soal logika yang belum sempat kering.***
*)artikel ini dalam perbaikan berkala