Lewati ke konten

PKL Tuban Lawan Takdir Relokasi: Saat Bupati Buru-buru, Pedagang Masih Bingung Mau ke Mana

| 2 menit baca |Sorotan | 4 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Hamim Anwar Editor: Supriyadi

ALUN-ALUN Tuban yang biasanya jadi tempat orang berswafoto mendadak berubah jadi arena tarik-ulang sejarah pada Sabtu sore (18/10/2025). Puluhan pedagang kaki lima (PKL) mendorong gerobak mereka kembali ke trotoar depan Masjid Agung, tempat yang dulu jadi sumber nafkah dan sekarang jadi simbol larangan.

Dari arah Jalan RM Suryo dan RA Kartini, satu per satu mereka datang, bukan untuk berdagang semata, tapi untuk menuntut kejelasan. Ketika Satpol PP menutup akses jalan dengan barikade dan truk, suasana jadi panas. Beberapa pedagang bahkan nekat merobohkan blokade beton. Tuban sore itu seperti punya dua versi aturan, versi pemerintah, dan versi perut rakyat.

#Kambing Belum Punya Kandang

“Bupati itu seperti orang beli kambing tapi belum punya kandang,” kata Sujud Wahyudi, Ketua Paguyuban PKL Barokah Boom, menatap barikade beton yang baru saja mereka singkirkan.

Ucapan itu mungkin terdengar kasar, tapi di baliknya ada realitas getir, tempat relokasi belum siap, tapi perintah pindah sudah jalan.

PKL diarahkan ke kawasan Jalan Yos Sudarso, dekat Pantai Boom Tuban, tempat yang katanya “lebih tertib dan indah”.

Sayangnya, yang datang ke sana bukan pembeli, melainkan angin laut. “Kami disuruh tertib, tapi pemerintahnya sendiri kayak belum siap nertibin pikirannya,” ujar salah satu PKL, setengah bernada tinggi.

#Wajah Baru Kota Yang Tak Ramai

Bupati Tuban, Aditya Halindra Faridzky, yang suka disapa Mas Lindra, berulang kali menegaskan bahwa Alun-Alun harus steril dari aktivitas berdagang.

Alasannya, untuk menjaga keindahan dan ketertiban ruang publik. “Tuban ini bukan milik satu dua orang saja,” ujarnya dengan nada diplomatis.

Masalahnya, kalimat itu jadi terdengar janggal ketika yang “satu dua orang” itu justru mewakili ratusan keluarga kecil yang kehilangan penghasilan. Wajah baru Alun-Alun memang rapi, tapi kehilangan denyut kehidupan rakyatnya. Rapi bagi pejabat sering berarti “sepi bagi rakyat”.

#Janji Manis Di Atas Trotoar Yang Dikosongkan

Bupati kemudian menyampaikan permohonan maaf dan menyebut kios untuk PKL sudah disiapkan. Tapi bagi PKL, itu cuma janji yang sudah sering lewat seperti ombak di Pantai Boom. Datang sebentar, hilang tanpa jejak. “Kalau memang gentle, temui kami. Jangan cuma janji manis,” kata Sujud, yang sebenarnya menahan kecewa.

Dalam setiap proyek penataan kota, selalu ada yang dirapikan dan ada yang disingkirkan. Di Tuban, mereka yang disingkirkan masih menunggu kapan “penataan” itu juga berlaku bagi hati pejabatnya. Sebab bagi pedagang kecil, keindahan kota tak ada artinya kalau dapur tetap kosong.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *