SURABAYA – Di tengah hiruk-pikuk Kota Pahlawan yang katanya modern dan selalu inovatif—macetnya juga inovatif, btw—ada satu kampung yang milih jalur anti-mainstream: jadi Kampung Dongeng. Bukan kampung digital, bukan kampung kopi hits, bukan kampung mural Instagramable. Kampung Lemah Putro memilih jalur “sakit jiwa”, tapi dalam arti yang keren.
“Eh, serius ini ada kampung dongeng di Surabaya? Gue kira cuma ada di buku cerita zaman SD.” — kata seorang warga di warung kopi.
Kenapa ini bisa disebut savage? Karena saat semua orang berlomba-lomba cari duit dari wisata instagenik, warga Lemah Putro ngajarin anak-anak main gobak sodor, dengerin dongeng, dan belajar membatik. Iya, membatik. Bayangin: anak-anak sekarang pegang mouse tiap hari, tiba-tiba disuruh pegang sapu tangan batik dan lele becek. Mental detox digital, gitu.
“Aku sih mau anakku detox digital, tapi jangan sampe trauma sama lele, ya.” — seru warga lainnya di warung kopi yang takut trauma
#Kampung Wisata Level Up: Anti Stiker Edukasi
Di Surabaya, kampung wisata itu buanyak. Mulai kampung pecel sampai kampung “vintage” yang isinya cuma kursi tua dan papan kayu amburadul. Tapi Lemah Putro? Mereka ogah ikut arus.
“Kami maunya beda. Kampung wisata edukasi lain itu biasanya cuma ngajarin bikin kerupuk atau daur ulang sampah. Bagus, tapi kurang nendang,” ujar Agung, Ketua RW 09 Lemah Putro. “Kami mainnya di imajinasi dan karakter. Anak-anak harus balik ke mainan tradisional, ke cerita fabel, bukan cuma nunduk ke gadget.”
Level up, kan? Anak-anak ikut cooking class berbahan lele, praktik langsung pegang lele, sampai belajar membatik. Dari genggam mouse pindah ke sapu tangan batik dan lele becek—kayak reboot kehidupan anak digital.
“Jadi, anak aku main lele sekarang? Aku harus beli sepatu bot atau cukup sandal jepit aja?” — ibu-ibu yang mikir praktis
#Kurikulum Ala Pendongeng: Lebih Magis dari Sekolah
Ini bagian paling gokil. Lemah Putro punya kurikulum adaptif ala pendongeng. Anak-anak belajar karakter, moral, dan etika lewat cerita, bukan lewat TikTok 15 detik yang bikin kepala pusing tujuh keliling.
Kak Hilmi, sang inisiator, bilang: “Kami tanamkan cerita cinta melalui dongeng yang nyambung sama kegiatan, misal membatik. Anak-anak nggak cuma belepotan malam, tapi juga dapat nutrisi moral.”
“Wah, berarti kalau anakku pulang, dia bisa nyanyi lagu fabel sambil ngecat batik?” — ucap warga lainnya yang terlalu antusias
Di tengah gempuran hoax dan tontonan toxic, anak-anak di Lemah Putro malah sibuk main gobak sodor, filosofi membatik, dan cerita moral. Seolah ikut program rehabilitasi mental kolektif dari dunia digital yang kejam.
#Gotong Royong vs Pemerintah: Dagelan Tanpa Ujung
Acara membatik kemarin diikuti 20 anak, didampingi 15 pendamping. Kecil? Iya. Tapi maknanya besar, karena ini bukan sekadar piknik. Ini investasi karakter yang nggak bisa dihitung pakai rupiah.
Masalahnya, semua ini berjalan tanpa bantuan pemerintah. Yep, nol. Hanya gotong royong warga. Drama klasik di negeri ini: ide brilian muncul dari akar rumput, tapi harus berjuang sendirian.
“Kok bisa ya, ide keren gini nggak diendorse pemerintah? Mungkin takut nanti anak-anak Surabaya lebih pinter daripada pejabat.” — ucap warga yang sedang nyesep kopi dengan pedas
Dan bagi 20 anak yang pulang membawa sapu tangan batik dan memori dongeng hangat, itu lebih dari cukup. Semoga semangat gotong royong warga Lemah Putro nggak loyo hanya karena tidak ada kucuran dana.
#Detox Digital di Tengah Beton
Melihat antusiasme anak-anak dan kegigihan warga, Lemah Putro kayak oase di gurun beton Surabaya. Buat orang tua yang minder karena anaknya lebih jago scrolling daripada mendongeng, Lemah Putro adalah destinasi detox digital.
“Beneran nggak sih anak gue bakal minta didongengin bukan minta skin game?” — orang tua skeptis
Habis pulang dari sini, siapa tahu anak Anda nggak lagi minta skin game baru, tapi malah minta diceritain dongeng sebelum tidur. Nggak lucu? Ya, gemes sih. Tapi kadang dunia butuh yang gemes-gemes kayak gini.
“Kalo anakku balik ke sini tiap minggu, aku siap buka rekening khusus beli lele dan sapu tangan batik.” — kata yang lainnya dengan nada supportif
Kalau anak Anda masih minta HP tiap lima menit, mungkin sudah waktunya kirim mereka ke Lemah Putro. Di sana, mereka belajar satu hal penting: dunia ini nggak cuma swipe, scroll, dan like. Kadang, dunia itu tentang lele, sapu tangan batik, dan dongeng yang bikin hati hangat.***