Lewati ke konten

Kejaksaan Tanam Pohon di Sumberboto Jombang: Antara Menanam Harapan atau Menanam Seremonial?

| 3 menit baca |Ide | 9 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Ulung Hananto Editor: Supriyadi

KALAU setiap penanaman pohon benar-benar diikuti dengan perawatan serius, mungkin Indonesia sudah jadi paru-paru dunia yang baru. Tapi, seperti banyak kisah cinta di negeri ini, indah di awal, redup di akhir. Semangat menanam sering berhenti di momen foto bersama. Kegiatan “Kejaksaan Peduli Lingkungan” di Sumberboto, Jombang, juga bikin kita ingin bertanya dengan nada jujur, “Setelah bibitnya ditanam, siapa yang akan benar-benar menjaga pohonnya?”

Udara di kawasan wisata Sumberboto terasa sedikit lebih segar dari biasanya. Bukan karena pepohonan tiba-tiba tumbuh semalam, tapi karena rombongan pejabat dari Kejaksaan Agung dan Pemerintah Kabupaten Jombang datang membawa semangat hijau. Dan tentu saja, spanduk bertuliskan besar-besar “Penanaman Pohon – Kejaksaan Peduli Lingkungan di Desa Japanan, Kecamatan Mojowarno, Kabupaten Jombang” pada Ahad (19/10/2025).

Jaksa Agung Muda Pengawasan (Jamwas) RI, Rudi Margono, berbicara dengan nada penuh keyakinan, “Kegiatan ini bisa dilakukan siapa saja asal memiliki kepedulian terhadap alam.” Ia menambahkan, “Sebagai umat beragama, kita harus menyadari bahwa setiap makhluk ciptaan-Nya itu luar biasa, tumbuhan dan hewan diciptakan untuk memberi manfaat bagi manusia.”

Kalimat yang benar, bijak, dan penuh makna. Tapi juga kalimat yang sering diucapkan, difoto, lalu ditinggalkan bersama cangkul yang masih bersandar di batang pohon.

Rudi menambahkan bahwa kegiatan semacam ini adalah bentuk rasa syukur dan cinta lingkungan. Ia berharap gerakan menanam ini bisa jadi inspirasi dan berlanjut lewat program nyata atau CSR lingkungan. Harapan yang bagus, tapi bukankah kata “berkelanjutan” di Indonesia sering berumur sependek acara peresmiannya?

“Menanam Harapan”, Tapi Siapa yang Menyiram?

Bupati Jombang Warsubi juga hadir dengan semangat yang tak kalah hijau. Ia bilang, “Satu pohon yang kita tanam hari ini adalah investasi kehidupan bagi anak cucu kita kelak.”
Kalimat yang indah, dan tentu saja layak jadi caption Instagram Dinas Lingkungan Hidup.

Tapi pertanyaannya, siapa yang memastikan “investasi” itu benar-benar tumbuh, bukan mati kering karena lupa disiram?

Kita semua tahu, banyak kegiatan tanam pohon berakhir sebagai ritual simbolik. Datang, tanam, foto bareng, lalu pulang. Besoknya, bibit yang ditanam hanya punya dua nasib, ditinggalkan, atau mati pelan-pelan karena tak ada yang merawat.

“Pemerintah daerah akan terus mendorong gerakan penghijauan di berbagai wilayah Jombang,” kata Warsubi.
Kalimat yang lagi-lagi terdengar manis, tapi akan lebih indah kalau disertai rencana konkret. Misalnya siapa yang akan menyiram, berapa kali sepekan, dan siapa yang memastikan bibit tak jadi semak belukar kering.

Padahal, kawasan Sumberboto ini bukan tempat sembarangan. Ia punya sejarah panjang dan potensi besar sebagai wisata alam yang bisa jadi paru-paru kecil bagi Jombang. Tapi kalau penghijauan hanya jadi “seremonial hijau”, maka ia tak jauh beda dari taman plastik di depan kantor, indah dari jauh, tapi tak hidup benar-benar.

#Antara Kesadaran dan Formalitas

Kegiatan seperti ini memang penting. Tapi lebih penting lagi kalau niatnya tak berhenti di undangan dan berita rilis. Lingkungan tidak butuh seremoni, ia butuh keberlanjutan. Butuh orang-orang yang mau turun tangan tanpa kamera, bukan hanya turun tangan saat kamera menyala.

Menanam pohon itu mudah. Yang sulit adalah menanam kesadaran. Sebab, kalau urusan alam masih dianggap agenda tambahan dalam kerja birokrasi, maka hutan akan tetap gundul, sungai tetap keruh, dan pohon-pohon di Sumberboto mungkin hanya jadi latar belakang foto pejabat yang “peduli lingkungan.”***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *