LAMONGAN – Peringatan Hari Jadi ke-80 Provinsi Jawa Timur di halaman Gedung Pemkab Lamongan, Senin (13/10/2025), berlangsung seperti biasa, upacara, pidato, dan semangat pembangunan yang tak pernah absen dari teks sambutan.
Bupati Yuhronur Efendi, yang akrab disapa Pak Yes, tampil sebagai inspektur upacara dengan pesan utama, Lamongan siap berkontribusi mewujudkan Jawa Timur yang Tangguh dan Terus Bertumbuh.
“Tema peringatan kali ini, Jatim Tangguh, Terus Bertumbuh, harus kita maknai dengan sinergi. Kita ingin mewujudkan Jawa Timur sebagai Gerbang Baru Nusantara,” ujar Pak Yes
Kalimat yang, kalau dipikir-pikir, sudah jadi mantra lama, diucapkan setiap tahun, tapi belum tentu tumbuh di tanah yang sama.
#Dari Sawah ke Pidato: Lumbung Pangan yang Masih Butuh Pupuk
Lamongan memang dikenal sebagai salah satu lumbung pangan Jawa Timur. Dari padi, jagung, sampai kedelai, daerah ini ikut memberi makan provinsi. Tapi di balik kebanggaan itu, ada pertanyaan yang lebih getir: siapa yang memberi makan para petaninya?
Harga pupuk masih sering naik-turun seperti mood pejabat pasca-rapat. Irigasi banyak yang sudah berumur seabad, sementara petani muda makin langka—lebih tertarik bikin konten panen di TikTok ketimbang panen di sawah sungguhan.
Pak Yes dalam pidatonya menegaskan komitmen mempertahankan sektor pertanian sebagai kekuatan utama Lamongan. Tapi mempertahankan saja belum cukup. Dalam banyak kasus, pertanian kita bukan lagi kekuatan, melainkan ketergantungan yang belum naik kelas.
Selama nilai jual hasil panen tak sebanding dengan biaya tanam, petani akan terus tangguh—bukan karena dimuliakan, tapi karena terpaksa bertahan.
Meski begitu, Pak Yes tetap optimistis. Ia percaya Lamongan yang menjadi bagian dari kawasan Gerbangkertosusila punya peran penting dalam menopang pusat ekonomi dan konektivitas regional.
Optimisme itu terdengar manis di podium, tapi di pematang sawah, yang dibutuhkan bukan pidato, melainkan kebijakan yang bisa membuat petani tak sekadar kuat menahan harga, tapi juga kuat menabung hasil.
#Gerbangkertosusila: Antara Peluang dan Pelengkap
Sebagai bagian dari kawasan Gerbangkertosusila, Lamongan ingin menunjukkan diri sebagai pemain penting dalam konektivitas ekonomi regional. Di atas kertas, kedengarannya keren, Lamongan sebagai simpul baru industri, pendukung Surabaya, dan pintu gerbang pertumbuhan.
Namun di lapangan, kawasan industri yang dijanjikan sering kali baru sampai tahap papan nama. Investor datang, meninjau, lalu pergi—karena infrastruktur dasar, mulai dari jalan hingga pasokan listrik, belum sepenuhnya siap.
Di sisi lain, semangat industri sering berbenturan dengan identitas agraris Lamongan. Alih fungsi lahan terus terjadi, sawah-sawah berganti pagar tembok, dan desa kehilangan napas produksinya.
Kalau tak hati-hati, Lamongan bisa kehilangan dua hal sekaligus, status lumbung pangan dan kesempatan jadi kawasan industri yang berkelanjutan.
#Tangguh di Atas Panggung
Dalam kesempatan itu, Pak Yes juga membacakan sambutan Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, yang menekankan pentingnya filosofi kerja Jatim BISA — Berdaya, Inklusif, Sinergis, dan Adaptif. Sebuah konsep yang terdengar seperti motivasi korporat tapi sebenarnya relevan kalau dijalankan sungguh-sungguh.
Masalahnya, kata “tangguh” sering berhenti di spanduk, sementara “bertumbuh” sibuk mencari lahan subur di tengah birokrasi. Lamongan, seperti banyak kabupaten lain, rajin ikut merayakan pembangunan tapi masih berjuang mengubah upacara jadi aksi.
Delapan puluh tahun Jawa Timur mungkin waktu yang cukup untuk refleksi, “Apakah kita benar-benar tumbuh, atau sekadar rutin merayakan pertumbuhan yang masih berupa konsep?”
Lamongan sudah punya modal besar—tanah subur, manusia pekerja keras, dan posisi strategis. Yang dibutuhkan sekarang bukan lagi seremoni tahunan, tapi keberanian memupuk kebijakan yang benar-benar berpihak pada rakyat kecil.
Karena ketangguhan sejati bukan di podium upacara, tapi di sawah, pasar, dan pabrik yang tetap hidup meski tak pernah masuk pidato.***