JOMBANG – Malam Kamis (16/10/2025) kemarin, suasana di rumah para ASN Jombang mungkin terasa lebih tegang dari biasanya. Bukan karena nonton sinetron yang klimaks, tapi karena pendaftaran seleksi terbuka (selter) jabatan pimpinan tinggi pratama (JPTP) Pemkab Jombang ditutup pukul 23.59 WIB.
Dan seperti kebiasaan masyarakat Indonesia yang luhur dan turun-temurun — dari bayar pajak, ngumpulin skripsi, sampai ngelamar jabatan — semuanya baru heboh menjelang detik terakhir.
“Biasanya mendekati injury time banyak yang masuk. Sekarang masih banyak yang nyiapin berkas,” ujar Kepala BKPSDM Jombang, Anwar, dengan nada pasrah tapi penuh harapan, Kamis sore.
Hingga sore itu, tercatat baru 10 orang yang resmi mendaftar. Iya, sepuluh. Jumlah yang bahkan kalah banyak dari antrean di depan warung pecel di alun-alun pagi hari.
#Jabatan Ada, Pelamar Juga Ada, Tapi… Belum Cukup
Tiga kursi empuk yang diperebutkan adalah, Kepala Dinas Perhubungan (Dishub),Kepala Satpol PP, dan Staf Ahli Bupati Bidang Pemerintahan, Kesejahteraan Rakyat, Hukum, dan Politik.
Ketiganya sudah punya pelamar. Tapi belum memenuhi kuota minimal empat pelamar per jabatan.
Anwar menjelaskan, kalau nanti masih ada jabatan yang sepi peminat, pendaftarannya akan diperpanjang seminggu. Alias, “dikasih kesempatan lagi buat yang masih menimbang nasib.”
“Saya yakin akan ada tambahan peserta menjelang penutupan,” katanya dengan ekspresi yang mungkin mirip guru BK menunggu murid mengumpulkan tugas.
#Jabatan Kosong Sejak Lama, Tapi Nunggu Momen yang Tepat
Dari enam kursi eselon II yang kosong di Pemkab Jombang, hanya tiga yang dibuka lewat selter kali ini. Sisanya, entah menunggu giliran atau masih “dicari orang yang pas.”
“Total ada enam jabatan yang kosong. Namun untuk sementara hanya tiga yang dibuka melalui seleksi terbuka,” ujar Sekda Jombang, Agus Purnomo, awal Oktober lalu.
Dasar hukumnya, jelas. Ada UU No. 20 Tahun 2023 tentang ASN, plus restu dari Badan Kepegawaian Negara (BKN) tertanggal 29 September 2025. Jadi ini bukan sekadar cari orang, tapi cari figur yang (semoga) bisa kerja dan bukan sekadar kursi bergeser nama.
#Kalau ASN Saja Menunda, Apalagi Kita
Fenomena pendaftaran injury time ini seolah jadi cermin kecil betapa budaya “nanti aja dulu” memang tak pandang jabatan. Entah pegawai, pejabat, atau rakyat biasa — semuanya punya bakat alami untuk bekerja di bawah tekanan jam dinding.
Kalau boleh jujur, mungkin sebagian ASN sedang merenung di depan laptop malam itu:
“Daftar nggak ya? Kalau daftar, saingannya siapa aja ya? Kalau nggak daftar, nanti disuruh siapa ya?”
Dan di situlah, antara ambisi dan rasa sungkan, antara birokrasi dan kenyataan, seleksi terbuka ini sebenarnya sedang mengetes satu hal: siapa yang paling cepat klik tombol “daftar” sebelum tengah malam.***