Lewati ke konten

Dua Dapur MBG Ditutup: Ketika Air Jadi Biang Kerok, Bukan Nasinya

| 2 menit baca |Sorotan | 5 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Hamim Anwar Editor: Redaksi

BOJONEGORO – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Bojonegoro lagi-lagi bikin warganya deg-degan. Bukan karena porsinya kecil atau lauknya cuma tempe orek, tapi karena… airnya.
Ya, dua dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Desa Drokilo dan Sidorejo, Kecamatan Kedungadem, resmi ditutup sementara. Alasannya klasik tapi mematikan: air yang dipakai buat masak tidak higienis, alias penuh bakteri E. Coli — si penghuni usus besar yang doyan bikin perut bergolak.

Kepala Dinas Kesehatan Bojonegoro, Ninik Susmiati, bilang kalau penutupan ini dilakukan usai tim dari Badan Gizi Nasional (BGN) datang langsung ke lokasi. “Sudah kami tutup. Kalau mau buka lagi, ya harus berbenah dulu,” ujarnya dikutip Suarabanyuurip.com, Senin (6/10/2025).

Bahasanya halus, tapi maksudnya jelas, tolong cuci dulu embernya, jangan cuma doa sebelum masak.

 #Air Tak Higienis, Tapi Nasi Aman: Sebuah Plot Twist

Lucunya, hasil uji laboratorium justru menunjukkan kalau makanan MBG-nya aman. Jadi kalau ada yang keracunan, pelakunya bukan lauknya, tapi airnya.

Artinya, telur puyuh dan orek tempe resmi bebas dari segala tuduhan. Yang bersalah justru air yang dipakai buat nyuci ompreng dan alat masak—air yang mungkin lebih banyak pengalaman hidupnya daripada filtrasi.

Masalahnya, dua dapur ini juga belum punya Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).
Kalau disamakan dengan manusia, mereka ini belum punya KTP kebersihan, tapi entah kenapa tetap dikasih mandat ngurus makanan ratusan anak sekolah tiap hari.

“Air yang digunakan di dua dapur SPPG itu mengandung bakteri E. Coli, dan cara pencucian ompreng serta alat masak kurang bersih,” imbuh Ninik.

Singkatnya, nasinya sih aman. Tapi airnya berbahaya. Sebuah ironi yang sedap dibaca, tapi jelas nggak layak dikonsumsi.

#Dari Kasus ke Kasus: Bojonegoro Seperti Tak Pernah Belajar

Yang bikin tambah getir, hasil laboratorium dua dapur ini sama persis dengan hasil uji di SPPG Campurrejo tahun lalu — yang juga bikin tujuh siswa SD keracunan. Jadi kalau ini sinetron, ceritanya berulang-ulang, cuma ganti lokasi dan pemeran.

Ninik bahkan sempat menjelaskan bahwa dari hasil pemeriksaan mikrobiologi di Labkesda, air yang dipakai masak melebihi batas aman. Bahasa sederhananya: airnya kotor banget. Tapi kok ya tetap dipakai buat bikin nasi?

Seolah-olah di balik dapur MBG ini ada filosofi baru: “Yang penting niatnya gizi, urusan higienis nanti dulu.”

Kalau dapur adalah jantung dari program makan bergizi, maka air adalah darahnya. Dan kalau darahnya kotor, ya jangan heran kalau yang makan jadi lemas — bukan karena lapar, tapi karena diare.

 Semoga setelah ini, pemerintah tak cuma gencar membagikan gizi, tapi juga membagikan akal sehat dan kesadaran soal kebersihan.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *