Lewati ke konten

Bantuan Datang, Angin Ribut Kalah Telak: Ketika Pemkab Mojokerto Tunjukkan Respons Cepat untuk Warganya

| 3 menit baca |Sosok | 2 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Fio Atmadja Editor: Fio Atmadja, Supriyadi

MOJOKERTO – Angin ribut boleh saja membikin genteng beterbangan, tapi warga Mojokerto tidak perlu khawatir tidur beratapkan bintang terlalu lama. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mojokerto gerak cepat, atau istilah BPBD-nya: respons tanggap darurat, bukan respons “tunggu disposisi”.

Bupati Mojokerto Muhammad Al Barra—yang akrab disapa Gus Barra—turun langsung menyerahkan bantuan material bangunan untuk warga korban angin ribut di beberapa wilayah. Tak cuma lembaran asbes dan batang kayu, warga juga mendapat paket lengkap yang bisa bikin posko pengungsian terasa seperti rumah tangga baru.

Bayangkan saja, ada sembako dari Baznas, kompor gas dua tungku, sabun, sampo, pasta gigi, handuk, pembalut, jas hujan, bahkan senter—biar tetap terang meski PLN sedang “bermeditasi”. Lengkap pula dengan perlengkapan P3K dan sarung. Karena, siapa tahu, abis pasang atap masih sempat jumatan.

“Saya bersama Kepala BPBD, Camat Jetis, dan Kepala Desa Jetis meninjau langsung kondisi rumah warga terdampak puting beliung,” kata Gus Barra, Kamis (9/10/2025).

Menurut hasil asesmen BPBD Kabupaten Mojokerto, ada sekitar 45 rumah yang terdampak di tiga kecamatan: Jetis, Sooko, dan Gedeg. Pemerintah sudah menyalurkan bantuan tahap pertama dan berjanji sisanya segera dikirim esok harinya.

“Ini bentuk respon cepat Pemkab Mojokerto dalam penanganan bencana. Semoga bantuan ini bisa meringankan beban warga,” lanjut Gus Barra, yang tampak masih bersemangat meski keliling lokasi dari pagi.

#Dari Asbes sampai Bata Merah: Catatan Warga Penerima Bantuan

Tak semua bantuan bentuknya sama. BPBD menyesuaikan dengan tingkat kerusakan dan kebutuhan tiap rumah. Tapi kalau dibaca daftar bantuannya, terasa banget betapa beragam kebutuhan warga yang diterjang angin ribut ini.

Misalnya, Sulika dari Desa Jetis, Kecamatan Jetis, menerima enam lembar asbes dan dua batang kayu ukuran 6×12. Cukup buat ganti atap dan nyusun tenda darurat sambil nunggu tukang.

Suntamah, tetangga satu desa, juga kebagian empat lembar asbes ukuran 105×300. Sementara Riyo dari Desa Kedungmaling, Sooko, lebih beruntung: empat batang kayu, empat lembar asbes, 650 bata merah, dan tiga sak semen. Rumahnya mungkin agak “menganga” lebih lebar dari yang lain.

Ada juga Wijanarko dengan 12 lembar asbes, Rushidayati dengan delapan lonjor canal C dan sembilan lembar spandek ukuran lima meter, serta Hendun Ardiansyah yang dapat lima lembar asbes. Kalau dikumpulkan, bahan bantuannya bisa bikin satu rumah contoh versi BPBD.

#Antara Cuaca Ekstrem dan Solidaritas

Musim hujan di Mojokerto memang makin tidak bisa diprediksi. Sore bisa terang, magrib bisa angin ribut, dan malamnya sudah trending “atap beterbangan”. Tapi di balik semua itu, ada hal yang tetap menenangkan: solidaritas warga dan cepatnya respons pemerintah.

Bantuan yang datang bukan cuma soal material, tapi juga soal rasa, rasa hadir, rasa diperhatikan. Sesuatu yang sering lebih menenangkan daripada sekadar sekarung semen.

Jadi, meski angin ribut sudah lewat, semoga yang tersisa bukan trauma, tapi keyakinan bahwa kalau bencana datang, tangan pemerintah dan warga Mojokerto akan sigap—tak kalah cepat dari hembusan angin itu sendiri.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *