MOJOKERTO — Langit Mojokerto tampaknya sedang kurang piknik. Rabu sore (8/10), ia menumpahkan semua emosi sekaligus, hujan deras, angin kencang, dan butiran es yang turun seperti permen karet basi dari awan. Hasilnya? 46 rumah warga di tiga kecamatan porak-poranda, satu orang luka berat, dan warga Jetis yang kini mungkin lebih sering menatap langit dengan rasa curiga daripada kekaguman.
Kepala BPBD Kabupaten Mojokerto, Rinaldi Rizal Sabirin, sudah turun langsung ke lapangan. Hasil asesmen menunjukkan, Kecamatan Jetis jadi “juara umum” dalam hal rumah rusak. Ada 19 rumah di Desa Canggu, 7 di Penompo, 6 di Mlirip, dan 3 di Jetis yang tak lagi bisa disebut “rumah”—lebih mirip open space design dengan konsep atap fleksibel menyesuaikan arah angin.
“Paling banyak di Jetis, memang wilayah ini punya potensi cuaca ekstrem setiap tahunnya,” ujar Rinaldi di sela asesmen pada Kamis (9/10/2025).
Dalam bahasa lebih jujur, artinya: Jetis sudah langganan, tapi tetap saja tiap tahun kita kaget seperti pertama kali.
#Ketika Angin Tak Hanya Meniup Daun
Di Kecamatan Sooko, delapan rumah juga kena imbas. Empat di Desa Kedungmaling, dua di Tempuran, dan dua di Ngingasrembyong. Mungkin, kalau angin ini ikut lomba lari, ia sudah menang duluan: satu putaran keliling tiga desa cukup untuk bikin genteng melayang dan warga berhamburan mencari atap baru.
Untungnya, kata Rinaldi, kesadaran warga mulai meningkat. Mereka tahu apa yang harus dilakukan kalau bencana datang lagi—meski belum tentu tahu harus mengadukan ke siapa setelah rumah mereka berubah jadi puing romantis di sore hari.
“Kami akan mendampingi masyarakat apabila membutuhkan penanganan kebencanaan dan meningkatkan pengetahuan terkait kebencanaan,” ujarnya.
Kalimat yang terdengar manis di telinga, meski warga mungkin lebih butuh paku dan asbes ketimbang pengetahuan tambahan. Tapi ya sudah, bantuan material bangunan memang dijanjikan pemerintah. Semoga cepat, sebelum musim hujan datang dengan DLC bencana versi terbaru.
| Kecamatan | Desa | Jumlah Rumah Rusak | Keterangan |
|---|---|---|---|
| Jetis | Canggu | 19 | Rusak ringan hingga berat |
| Jetis | Penompo | 7 | Termasuk rumah Suliyati roboh total |
| Jetis | Mlirip | 6 | Atap dan rangka rusak |
| Jetis | Jetis | 3 | Tertimpa pohon tumbang |
| Sooko | Kedungmaling | 4 | Sebagian atap beterbangan |
| Sooko | Tempuran | 2 | Tembok retak dan genteng pecah |
| Sooko | Ngingasrembyong | 2 | Diterjang angin puting beliung mini |
| Total | – | 46 | – |
#Suliyati, dan Luka yang Tak Sekadar di Bahu
Dari semua berita rusak-rusak itu, ada satu nama yang membuat suasana hening: Suliyati, warga Desa Penompo, tertimpa atap rumahnya yang ambruk total. Ia dilarikan ke RS Citra Medika dan siang tadi menjalani operasi karena patah tulang bahu.
“Penanganannya di-cover BPJS Kesehatan mandiri,” kata Camat Jetis, Tri Cahyo.
Kalimat sederhana, tapi menyimpan makna getir: bahkan ketika langit marah dan rumah ambruk, manusia tetap harus mandiri.
Kini, reruntuhan genteng dan kayu masih berserakan di beberapa titik. Sebagian warga sudah mulai membersihkan, sebagian lain memilih menatap kosong—mungkin sambil berpikir, “Apa salah kita sampai langit juga ikut marah begini?”
Yang jelas, di Mojokerto, hidup memang tak pernah kekurangan ujian. Dari banjir ke longsor, dari panas ke hujan es. Tapi toh, warga selalu bangkit. Kadang bukan karena kuat, tapi karena tak punya pilihan lain.***